Matthew's Blogs

Seorang pria bernama Morgan Spurlock mengadakan sebuah percobaan iseng. Ia adalah pria dewasa yang sehat, segar bugar, siklus hidupnya bagus, dan tidak memiliki masalah kesehatan yang berarti. Ia kemudian nekat mencoba untuk mengonsumsi junk food dari sebuah perusahaan makanan cepat saji yang cukup terkenal untuk membuktikan hipotesis bahwa junk food memberi ekses sangat negatif pada tubuh.

Sebelum melakukan percobaan, Morgan melakukan berbagai pemeriksaan klinis pada 3 dokter yang berbeda untuk mengetahui kondisi fisik dan psikisnya. Setelah itu, selama 30 hari berturut-turut ia hanya mengonsumsi junk food dari perusahaan tersebut, 3 kali sehari, dan setidaknya mencoba setiap menu yang ada minimal 1 kali. Selama periode tersebut, ia terus melakukan pemeriksaan medis. Walau demikian, aktivitas kesehariannya tetap ia lakukan seperti biasa.

Hasilnya ternyata sungguh di luar dugaan. Selama 30 hari, Morgan sering mengalami stress dan depresi, sesak nafas, pusing, sulit tidur, dan bahkan, pasangannya mengeluhkan adanya pengaruh buruk dalam kehidupan seksual dan vitalitas mereka. Selama 30 hari tersebut, Morgan mengalami kenaikan berat badan 24,5 pon, kadar kolesterol membengkak hingga 230, dan tingkat kegemukan sebesar 18%.

Lebih buruk lagi, untuk menghilangkan penambahan bobot sebesar 20 pon tersebut diperlukan waktu selama 5 bulan, dan 9 bulan lagi untuk menghilangkan sisanya. Pendek kata, kesalahan yang dilakukan hanya selama 1 bulan (baca: buying nothing but junk food) harus ditebus dengan pengorbanan selama beberapa bulan lamanya.

Cerita di atas adalah kisah nyata yang diambil dari Super Size Me, sebuah film dokumenter karya Morgan Spurlock. Selain mengisahkan tentang percobaan nekat yang dilakukan Morgan, ada beberapa hal menarik yang diungkap juga dalam film tersebut. Beberapa di antaranya:

  • Amerika nggak cuma mempunyai gedung-gedung tinggi, mobil yang pajang, tetapi juga orang-orang “besar.” Sekitar 60% penduduk Amerika diyakini mengalami obesitas, dengan konsentrasi Detroit dan Houston (Texas).
  • Gaya hidup dan makanan yang keliru tidak hanya dibayar dengan duit, tetapi juga harus ditebus dengan kondisi tubuh, kesehatan, dan risiko kematian.
  • Dalam suatu percobaan, ditunjukkan beberapa gambar tokoh (termasuk George Washington dan Jesus Christ) kepada beberapa anak. Tidak banyak anak yang bisa menebak. Mereka semua baru bisa menebak dengan tepat ketika disodori gambar badut Ronald McDonald.
  • Industri junk food telah berkembang dengan sangat pesat. Sebuah perusahaan fast food ternama, dalam 1 hari bisa melayani 46 juta orang; melebihi jumlah penduduk Spanyol.
  • Lebih parah lagi, junk food juga digalakkan melalui school lunch program.

Apa itu Etika Bisnis?

Definisi etika bisnis menurut Business & Society – Ethics and Stakeholder Management (Caroll & Buchholtz):

Ethics is the discipline that deals with what is good and bad and with moral duty and obligation. Ethics can also be regarded as a set of moral principles or values. Morality is a doctrine or system of moral conduct. Moral conduct refers to that which relates to principles of right and wrong in behavior. Business ethics, therefore, is concerned with good and bad or right and wrong behavior that takes place within a business context. Concepts of right and wrong are increasingly being interpreted today to include the more difficult and subtle questions of fairness, justice, and equity.

Dari sumber yang lain, disebutkan:

Ethics is a philosophical term derived from the Greek word “ethos,” meaning character or custom. This definition is germane to effective leadership in organizations in that it connotes an organization code conveying moral integrity and consistent values in service to the public.
(R. Sims, Ethics and Corporate Social Responsibility – Why Giants Fall, C.T.:Greenwood Press, 2003)

Jadi, ada beberapa kata kunci di sini, yaitu:

  • Ethics: Is the discipline that deals with what is good and bad and with moral duty and obligation, can also be regarded as a set of moral principles or values.
  • Ethical behavior: Is that which isaccepted as morally “good” and “right” as opposed to “bad” or “wrong” in a particular setting.
  • Morality: A system or doctrine of moral conduct which refers to principles of right and wrong in behavior.

Etika bisnis sendiri terbagi dalam:

  • Normative ethics: Concerned with supplying and justifying a coherent moral system of thinking and judging. Normative ethics seeks to uncover, develop, and justify basic moral principles that are intended to guide behavior, actions, and decisions.
    R. DeGeorge, Business Ethics, 5th ed. (Upper Saddle River, N.J.: Prentice-Hall, 2002)
  • Descriptive ethics: Is concerned with describing, characterizing, and studying the morality of a people, a culture, or a society. It also compares and contrasts different moral codes, systems, practices, beliefs, and values.
    R. A. Buchholtz and S. B. Rosenthal, Business Ethics (Upper Saddle River, N.J.: Prentice Hall, 1998).

Perlunya Berbisnis dengan Etika

Sebenarnya, keberadaan etika bisnis tidak hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan “remeh” seperti, “Saya belanja Rp 50.000 tapi cuma ditagih Rp 45.000. Perlu nggak saya lapor?”, atau, “Bisakah saya melakukan tindakan tidak etis/melanggar hukum untuk meningkatkan kinerja divisi saya?”, atau, “Should I accept this gift or bribe that is being given to me to close a big deal for the company?“, atau, “Is this standard we physicians have adopted violating the Hippo-cratic oath and the value it places on human life?“, dan pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya.

Sebuah studi selama 2 tahun yang dilakukan The Performance Group, sebuah konsorsium yang terdiri dari Volvo, Unilever, Monsanto, Imperial Chemical Industries, Deutsche Bank, Electrolux, dan Gerling, menemukan bahwa pengembangan produk yang ramah lingkungan dan peningkatan environmental compliance bisa menaikkan EPS (earning per share) perusahaan, mendongkrak profitability, dan menjamin kemudahan dalam mendapatkan kontrak atau persetujuan investasi.

Di tahun 1999, jurnal Business and Society Review menulis bahwa 300 perusahaan besar yang terbukti melakukan komitmen dengan publik yang berlandaskan pada kode etik akan meningkatkan market value added sampai dua-tiga kali daripada perusahaan lain yang tidak melakukan hal serupa.

Bukti lain, seperti riset yang dilakukan oleh DePaul University di tahun 1997, menemukan bahwa perusahaan yang merumuskan komitmen korporat mereka dalam menjalankan prinsip-prinsip etika memiliki kinerja finansial (berdasar penjualan tahunan/revenue) yang lebih bagus dari perusahaan lain yang tidak melakukan hal serupa.

Kita Sebagai Pebisnis

Kasus yang paling gampang adalah Enron — yang begitu sering didiskusikan di ruang kuliah. Sebenarnya, Enron adalah perusahaan yang sangat bagus. Sebagai salah satu perusahaan yang menikmati booming industri energi di tahun 1990an, Enron sukses menyuplai energi ke pangsa pasar yang begitu besar dan memiliki jaringan yang luar biasa luas. Enron bahkan berhasil menyinergikan jalur transmisi energinya untuk jalur teknologi informasi.

Kalau dilihat dari siklus bisnisnya, Enron memiliki profitabilitas yang cukup menggiurkan. Seiring booming industri energi, Enron memosisikan dirinya sebagai energy merchants: membeli natural gas dengan harga murah, kemudian dikonversi dalam energi listrik, lalu dijual dengan mengambil profit yang lumayan dari markup sale of power atau biasa disebut “spark spread“.

Sebagai sebuah entitas bisnis, Enron pada awalnya adalah anggota pasar yang baik, mengikuti peraturan yang ada di pasar dengan sebagaimana mestinya. Pada akhirnya, Enron meninggalkan prestasi dan reputasi baik tersebut. Sebagai perusahaan Amerika terbesar ke delapan, Enron kemudian tersungkur kolaps pada tahun 2001. Tepat satu tahun setelah California energy crisis.

Seleksi alam akhirnya berlaku. Perusahaan yang bagus akan mendapat reward, sementara yang buruk akan mendapat punishment. Termasuk juga pihak-pihak yang mendukung tercapainya hal tersebut — dalam hal ini Arthur Andersen.

Masyarakat akhirnya juga lebih aware terhadap pasar modal. Pemerintah pun juga makin hati-hati dalam melakukan pengawasan. Penyempurnaan terhadap sistem terus dilakukan. Salah satunya adalah lahirnya Sarbanes-Oxley Act. Akibat mendzolimi pelaku pasar lainnya, Enron akhirnya terkapar karena melakukan penipuan dan penyesatan. Pun bagi “Enron-wannabe” lainnya, perlu berpikir ulang dua-tiga kali untuk melakukan hal serupa.

Memang benar. Kita tidak bisa berasumsi bahwa pasar atau dunia bisnis dipenuhi oleh orang-orang jujur, berhati mulia, dan bebas dari akal bulus serta kecurangan/manipulasi. Tetapi sungguh, tidak ada gunanya berbisnis dengan mengabaikan etika dan aspek spiritual. Biarlah pemerintah melakukan pengawasan, biarlah masyarakat memberikan penilaian, dan sistem pasar (dan sistem Tuhan tentunya) akan bekerja dengan sendirinya.

Kita Sebagai Konsumen

Ini yang lebih penting.

Memang benar, tidak ada yang bisa menjadi produsen (atau konsumen) selamanya. Ada kalanya kita berada dalam posisi sebagai penjual dan ada kalanya kita sebagai pembeli. Saya sendiri, lebih sering berada dalam posisi sebagai konsumen — alih-alih sebagai seorang produsen.

Kembali ke kasus Morgan di atas, persaingan bisnis yang kian sengit memang mengakibatkan terdistorsinya batas-batas antara right-wrong atau good-bad. Lumrah sekali kita jumpai praktik bisnis yang menembus area abu-abu. Tidak jarang pula kampanye pemasaran begitu gencar digalakkan sehingga membuat kita bahkan tidak bisa mengenali diri kita sendiri. Kita “dipaksa” membeli barang yang kita tidak perlu. Kita “senang” mengonsumsi produk yang sebenarnya justru merusak diri kita. Kita “bahagia” memakai produk luar negeri sementara industri dalam negeri mulai kehabisan nafas.

Kompas beberapa waktu lalu pernah mengulas tentang gencarnya cengkeraman kapitalisme membelenggu negara-negara yang baru berkembang seperti Indonesia. Korbannya adalah masyarakat strata menengah dan masyarakat strata “agak bawah” yang “memaksakan diri” untuk masuk ke level yang lebih tinggi. Secara fundamental ekonomi, pengaruhnya jelas tidak baik karena ekonomi yang didasarkan pada tingkat konsumsi yang besar (apalagi dibiayai oleh utang) benar-benar rawan. Secara sosial, jelas fenomena ini akan menimbulkan pergeseran dan rentan terhadap benturan yang dampak turunannya sebenarnya cukup mengerikan.

Maka tak perlu heran jika di jaman sekarang seorang anak kecil akan lebih faham kosakata “starbucks”, “breadtalk”, “orchard road”, “gucci”, daripada kosakata lain seperti “gudeg”, “bunaken”, “senggigi”, “ketoprak”, dan sebagainya. Kita secara tidak sadar mengkiblatkan diri pada produk/jasa yang sebenarnya tidak terlalu bagus — melainkan karena praktik pemasaran dan operasional bisnis yang seringkali melanggar batas-batas etika.

Sebenarnya tidak ada yang “salah” dengan kapitalisme. Kapitalisme, yang didasarkan pada perdagangan, disebut Adam Smith sejak lama sebagai kunci kemakmuran. Ide ini sudah dibuktikan secara empiris oleh para akademisi. Dengan adanya perdagangan, maka spesialisasi, penghargaan, kebersamaan, perdamaian, serta kemakmuran bisa tercapai. Yang salah adalah ketika kapitalisme dijalankan dengan melanggar etika sehingga menodai nilai-nilai murni perdagangan itu sendiri.

Belajar dari pengalaman Morgan, sebagai konsumen kita memang harus mulai belajar untuk aware terhadap praktik-praktik bisnis yang melanggar batas-batas etika. Karena pada akhirnya konsumen selalu berada dalam posisi yang dirugikan. Sementara produsen memiliki kesempatan berkelit yang lebih banyak. The winner takes all.

Padahal, sebenarnya kita nggak perlu malu mengonsumsi tahu, tempe, atau daun singkong, sementara teman-teman kita makan di restoran fast food. Biarlah kita mengenakan produk dalam negeri sementara orang lain pakai Versace, Bvlgari, atau Luis Vuitton. Tidak ada yang akan menghukum kita hanya karena ponsel kita lebih lawas daripada milik rekan kita. Kita tidak perlu ganti mobil hanya karena tetangga kita barusan beli mobil baru. Kita juga tidak harus membeli rumah yang lebih besar sementara kita sendiri sebenarnya sudah cukup nyaman dengan rumah yang ada.

Dan percayalah. Tidak ada yang lebih tahu dan mengenal diri kita kecuali Tuhan dan diri kita sendiri.


sumber : http://nofieiman.com/2006/10/etika-bisnis-dan-bisnis-beretika/

Matthew's Blogs

Saat aku meloncat dari gedung

Kulihat pasangan yang kutahu saling mencintai di lantai 10 sedang bertengkar dan saling memukul.


Kulihat Peter yang biasanya kuat dan tabah sedang menangis di lt.9


Di lt.8 Ah Mei memergoki tunangannya sedang bercinta dengan sahabatnya.


Di lt.7 Novi sedang minum obat anti depresi.


Di lt.6 Heng yang pengangguran terus membeli 7 koran untuk mencari lowongan kerja tiap hari


di lt.5 Mr. Wong yang sangat dihormati publik sedang mencoba baju dalam istrinya


di lt.4 Rosa bertengkar lagi dengan pacarnya.


Di lt.3 pak tua sedang mengharapkan seseorang datang mengunjunginya


Di lt.2 Lily sedang memandangi foto suaminya yang sudah meninggal 6 bulan lalu


Sebelum aku melompat dari gedung, kupikir aku orang yang paling malang


Sekarang aku sadar bahwa setiap orang punya masalah dan kekuatirannya sendiri


Setelah kulihat semuanya itu, aku tersadar bahwa ternyata keadaanku sebenarnya tidak begitu buruk


Semua orang yang kulihat tadi sekarang sedang melihat aku…


Kurasa setelah mereka melihatku sekarang, mungkin mereka merasa bahwa situasi mereka sama sekali tidak buruk.

“Be grateful for whoever you are….coz if u compare it to others, u’ll be suprised of their secret life “
“Bersyukurlah atas dirimu apa adanya… karena bila kamu membandingkan dengan orang lain, kamu akan “terkejut” dengan rahasia hidup mereka”

Dan..

Cintailah dirimu, walaupun seberapa berat masalah yang menimpamu. Kamu tetaplah berharga di mata-Nya. dan Kamu bisa menjadi alat yang dipakai-Nya, untuk memberikan manfaat bagi umat manusia. Kamu bisa menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang membutuhkannya. Salam.

Matthew's Blogs
Oleh : Matt Christian M. /3EA01/10206596


I. TEMA PENELITIAN

Pengaruh Bauran Produk, Pelayanan dan Promosi terhadap Kepuasan dan Peningkatan Jumlah Pelanggan Restoran Steak And Ribs Kenyot Corp.


II. LATAR BELAKANG

Sejak dahulu makanan menempati urutan teratas dalam pemenuhan kebutuhan manusia, sehingga masalah pangan dikategorikan ke dalam kebutuhan primer atau kebutuhan pokok. Dengan alasan itu, manusia tidak dapat melepaskan kebutuhannya untuk makan karena hanya dengan makan manusia dapat terus melangsungkan hidupnya. Dalam menikmati makanan atau hidangan, setiap orang mempunyai cara yang berbeda untuk memenuhinya. Cara tersebut bisa dengan memilih restoran yang indah dengan pelayanan mewah, dengan harapan bahwa konsumen akan merasa puas setelah ia mengorbankan sejumlah uang yang cukup besar di restoran yang bagus itu.

Disamping itu, ada pula yang lebih cenderung memilih restoran yang biasa tetapi memberikan kepuasan dalam rasa makanan yang disantapnya. Sebagian konsumen ada yang beranggapan daripada makan makanan yang mewah serta mahal tetapi tidak cukup lezat rasanya, lebih baik memilih restoran biasa namun menghidangkan menu yang lezat sesuai dengan selera mereka.

Perkembangan restoran dewasa ini telah diwarnai dengan berbagai macam persaingan di segala bidang. Melihat kondisi tersebut menyebabkan pebisnis restoran semakin dituntut untuk mempunyai strategi yang tepat dalam memenuhi target volume penjualan. Mengingat perkembangan teknologi yang makin dinamis, manusia dituntut dengan cepat dan tepat untuk bertindak agar tidak kalah bersaing. Dalam meningkatkan persaingan masing-masing restoran harus dapat memenangkan persaingan tersebut dengan menampilkan produk yang terbaik dan dapat memenuhi selera konsumen yang selalu berkembang dan berubah-ubah, serta dengan pelayanan yang memuaskan.

Restoran Steak and Ribs Kenyot Corp memang bukanlah rumah makan yang besar dan mewah, namun rumah makan ini menawarkan menu Steak dan Ribs dengan rasa spesial yang menjadi produk unggulannya. Pelanggan yang datang kebanyakan adalah orang yang sudah mengetahui keberadaan Restoran Steak and Ribs Kenyot Corp dan sering makan di restoran tersebut.

Faktor yang menjadi pertimbangan utama pelanggan dalam memilih restoran dan rumah makan tersebut adalah produk, pelayanan, dan promosi yang ditawarkan. Produk mencerminkan persepsi nasabah terhadap variasi dan kualitas yang diberikan, pelayanan merupakan jasa yang diberikan oleh restoran dengan persepsi kualitas pelayanan para karyawannya, sedangkan promosi mencerminkan persepsi pelanggan terhadap kegiatan sales promotion dan personal selling yang dilakukan.


III. RUMUSAN MASALAH

Bertitik tolak dari gambaran umum yang telah diberikan pada latar belakang masalah, maka timbul penelitian untuk meneliti adakah pengaruh faktor bauran pemasaran, yaitu Produk, Pelayanan, dan Promosi terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan Restoran Steak and Ribs Kenyot Corp.


IV. TUJUAN PENELITIAN

Mengetahui dan menganalisi pengaruh bauran Produk, Pelayanan, dan Promosi terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan Restoran Steak and Ribs Kenyot Corp


V. MANFAAT PENELITIAN

Sebagai informasi dalam usaha untuk meningkatkan jumlah pelanggan dan meningkatkan strategi penjualan, serta untuk mengetahui seberapa besar pengaruh bauran Produk, Pelayanan, dan Promosi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan Restoran Steak and Ribs Kenyot Corp.


VI. METODOLOGI PENELITIAN

A. Objek Penelitian

Penelitian ini dilakukan oleh manajemen Restoran Steak and Ribs Kenyot Corp kepada seluruh pelanggan yang datang.


B. Metode Pengumpulan Data

1. Data Primer

Dengan menyebarkan kuesioner yang dijawab oleh responden

2. Data Sekunder

Dengan melihat data historis penjualan dan data historis pelanggan manajemen Restoran Steak and Ribs Kenyot Corp.


C. Data / Variabel yang Digunakan

Sesuai dengan tujuan penelitian ini, variable yang akan diuji meliputi variable Dependen (Y) yaitu Kepuasan Konsumen dan variabel Independen (X) yaitu Produk (X1), Pelayanan (X2), dan Promosi (X3).


D. Teknik Pengumpulan Sampel

Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini dipilih secara non probabilitas (Non Random Sampling Method), yaitu tidak semua subyek atau individu dari populasi mendapatkan kemungkinan (probabilitas) yang sama untuk dijadikan anggota sampel. Dalam penelitian ini, kriteria non random yang digunakan adalah orang yang sedang makan (menyantap makanan) di Restoran Steak and Ribs Kenyot Corp.


E. Alat Analisis yang Digunakan

1. Skala Likert

Skala Likert tersebut adalah teknik pengukuran sikap yang paling luas digunakan dalam riset pemasaran. Skala Likert disebut juga summated rating scale. Skala Likert memungkinkan responden untuk mengepresikan intensitas perasaan mereka secara lebih luas. Hal ini dimungkinkan karena pertanyaan yang terdapat dalam Skala Likert memiliki jawaban berjenjang atau dengan kata lain memilikikemungkinan jawaban yang lebih banyak.

Pada saat menggunakan Skala Likert, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

  1. Urutan pertanyaan perlu diacak agar setiap pertanyaan mendapat peluang yang sama untuk setiap posisi

  2. Hindari keseragaman pilihan jawaban dengan mengacak titik ekstrem positif dan negative. Misalnya letakan kata sangat setuju sebagian disebelah kiri dan sebagian lagi disebelah kanan. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari pemberian jawaban yang seragam untuk semua jawaban.

Dalam penelitian ini untuk mengukur variabel-variabel digunakan kuisioner dengan pendekatan “Skala Likert” dengan lima (5)angka yaitu :

  • Sangat Puas skor 5.

  • Puas skor 4.

  • Kurang Puas skor 3.

  • Tidak Puas skor 2.

  • Sangat Tidak Puas skor 1.



  1. Analisis Regresi Linear Berganda

Metode yang juga digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda dimana variabel independen pada penelitian ini adalah faktor-faktor bauran pemasaran (X) dan variabel dependen pada penelitian ini adalah kepuasan (Y).

Rumusan persamaan regresi yang digunakan adalah sebagai berikut :

Y = a + bx1 +bx2 + bx3

Dimana : Y = Kepuasan Konsumen

X1 = Produk

X2 = Pelayanan

X3 = Promosi



VII. RANCANGAN ANALISIS DAN KESIMPULAN

Rancangan penelitian menunjukkan kegiatan yang dilakukan oleh peneliti mulai dari perumusan hipotesis sampai pada analisis data. Penelitian ini merupakan metode penelitian survey yaitu suatu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dengan mengandalkan kuisioner sebagai instrumen pengumpulan data. Dengan demikian penelitian ini dikategorikan sebagai explanatory research, yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel penelitian melalui pengujian hipotesis.


VIII. STRATEGI PENELITIAN

Strategi yang harus dilakukan oleh Manajemen Restoran Steak and Ribs Kenyot Corp adalah dengan meningkatkan promosi dengan Personal selling (pengiklanan) dengan cara lebih meningkatkan pesan yang dikomunikasikan kepada pelanggan melalui berbagai unsur yang terdapat dalam program promosi. Dengan cara itu,akan menambah lagi jumlah pelanggan yang datang. Karena pengiklanan melalui mulut ke mulut pelanggan dirasa lebih efektif dan lebih menambah jumlah pelanggan dengan cepat.

Strategi lain yang bisa digunakan adalah dengan cara membuat kotak saran dan kritik agar kepada para pelanggan yang telah datang untuk segera mengisi sehingga manajemen lebih tahu apa yag perlu diubah dan apa yang perlu ditambah lagi.

Strategi selanjutnya adalah menambah promosi dengan memberikan menu paket murah agar penjualan lebih banyak dan menambah minat pelanggan untuk datang kembali ke Restoran Steak and Ribs Kenyot Corp kembali.

Matthew's Blogs

BAB II

LANDASAN TEORI

2. 1. Uang

Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang. Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran.

2. 2. Harga

Dalam pertukaran atau pengukuran nilai suatu produk dalam pasar biasanya menggunakan uang. Jumlah uang tersebut biasanya menunjukan harga suatu produk atau jika seseorang ingin membeli sesuatu barang dan jasa, maka orang tersebut akan mengeluarkan sejumlah uang sebagai pengganti barang atau jasa tersebut.

Pengertian harga menurut Djaslim Saladin (2003:95) mengemukakan bahwa “harga adalah sejumlah uang sebagai alat tukar untuk memperoleh produk atau jasa atau dapat juga dikatakan penentuan nilai suatu produk dibenak konsumen”. Sedangkan pengertian harga menurut Wiliam J

Stanton (1993:13) adalah “jumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya”. Dan menurut Basu Swastha (1998:97) bahwa pengertian harga adalah “ jumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya.

Harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa barang) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya (Dharmmesta dan Irwan, 1990).

Menurut Thomson (2001) harga merupakan sesuatu yang diserahkan dalam pertukaran untuk mendapatkan suatu barang atau jasa. Harga khususnya merupakan pertukaran uang bagi barang atau jasa. Para konsumen untuk mendapatkan suatu "harga yang pantas". "Harga yang pantas sesungguhnya berarti nilai yang dipersepsikan pantas pada saat transaksi dilakukan".

Dari beberapa pengertian harga di atas, maka harga dapat diartikan sebagai nilai pertukaran yang ditetapkan oleh penjual dan pembeli untuk memperoleh suatu produk.

Konsumen sangat sensitif terhadap faktor harga (menjadikan harga sebagai satu-satunya pertimbangan membeli produk) dan ada pula yang tidak.

2. 3. Kebiasaan

Tradisi (Bahasa Latin: traditio, "diteruskan") atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.

Dedy Budiman (2008) mengatakatan bahwa kebiasaan adalah faktor yang mempunyai peranan yang kuat dalam hidup kita. Sesuatu yang kita lakukan secara sering dan berulang secara tidak disadari, maka menjadi kebiasaan dan mengekspresikan karakter kita lalu menghasilkan efektivitas ataupun ketidakefektivan kita.

Arlef (2008) mendefinisikan kebiasaan sebagai tingkah laku yang dijalankan secara konsisten dan berulang-ulang.

2. 4. Gaya Hidup

Gaya hidup yaitu pola hidup didunia yang diekspresikan oleh kegiatan, minat, dan pendapat seseorang. Gaya hidup ini menggambarkan seseorang secara keseluruhan yang berinteraksi dengan lingkungan, disamping itu juga dapat mencerminkan sesuatu dibalik kelas sosial seseorang, misalnya kepribadian.

A. B. Susanto (Jakarta Consulting Grup, 2006) mendefinisikan gaya hidup perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktivitas, minat dan opini khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya.

Matthew's Blogs

Bab I Pendahuluan

I.1. Latar Belakang

Pada bulan oktober terjadi sebuah krisis keuangan di Amerika Serikat. Krisis tersebut mengakibatkan bursa saham Wall Street terguncang hebat. Harga-harga saham tiba-tiba anjlok. Krisis tersebut langsung merembet semua sector di Amerika Serikat. Sang negara super power dilanda krisis ekonomi. Krisis tersebut langsung menjangkit ke negara-negara lain di Eropa dan Asia. Negara-negara seperti Inggris, Prancis, Jepang, Cina, Korea termasuk Indonesia langsung terkena dampaknya. Indeks harga saham di negara-negara tersebut langsung merosot. Di Indonesia, IHSG merosot dengan tajam hanya dalam beberapa jam saja. Hal ini mengakibatkan BEI melakukan suspense perdagangan saham. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Nilai tukar rupiah pun kian melemah. Sampai sempat menyentuh angka dua belas ribu per dollar Amerika. Dengan naiknya dollar otomatis mengakibatkan terjadinya inflasi. Hal ini juga akan mendorong terjadinya naiknya harga-harga. Jika sampai terjadi maka daya beli masyarakat akan semakin tertekan.

Emir Moeis (Bisnis Indonesia, 2008) mengatakan bahwa warung-warung di pelosok Jakarta kini bertumbangan ke jurang kebangkrutan. Itu sebagai bukti bahwa rakyat kebanyakan sudah tak berbelanja lagi. Ini jelas memperlihatkan bahwa krisis keuangan global saat ini mempunyai pengaruh yang cukup besar. Harry (Bisnis Indonesia, 2008) mengatakan bahwa ia melihat efek domino krisis ekonomi global itu sudah mulai tergambar nyata, yaitu daya beli rakyat di dalam negeri semakin melemah. Sampai-sampai mereka tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan pokok pangan. “Kondisi itu sangat berbahaya karena bisa melahirkan gejolak sosial,” ujar Harry.

Iman Sugema (Bisnis Indonesia, 2008) memaparkan bahwa Krisis moneter 1998 disinyalir akan terulang saat ini. Bahkan, indikator krisis saat pada tahun ini jauh melampaui indikator saat krisis pada 10 tahun silam. Indikatornya adalah total hot money hingga 1998 sebesar USD14,8 miliar. Sementara total hot money dari 2002-2007 senilai USD24,5 miliar. Sementara total utang luar negeri hingga 1998, menurutnya, sebesar USD54 miliar. Saat ini total utang luar negeri USD88 miliar.

Hal-hal diatas sudah dengan cukup jelas memperlihatkan bahwa krisis saat ini sudah menekan daya beli masyarakat dan ada kemungkinan untuk terus menekan daya beli masyarakat. Mengingat mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat pasti akan ikut merasakan tekanan tersebut. Mungkin yang pertama kali merasakan adalah orang tua mereka. Dengan keadaan itu pasti akan berpengaruh kepada mereka. Apalagi jika orang tua mereka mengurangi uang saku. Pasti akan meyebabkan menurunnya daya beli dari mahasiswa tersebut. Untuk itu usulan untuk judul dari penelitian ilmiah ini ada pengaruh krisis ekonomi terhadap daya beli mahasiswa.

I.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan judul dan uraian diatas maka perumusan masalah sebagai berikut:

Apakah krisis yg terjadi saat ini mempengaruhi daya beli dari mahasiswa?

I.3. Batasan Masalah

Atas dasar latar belakang serta rumusan masalah maka penulis membatasi masalah dalam penulisan ini. Adapun batasan masalah yang akan dibahas yaitu pengaruh krisis pada daya beli mahasiswa. Kuesioner dibagikan pada 16 sampel/responden dengan jumlah pertanyaan adalah 4 variabel. Penyebaran kuesioner dilakukan pada minggu ketiga bulan Oktober tanggal 22 Oktober 2008.

I.4. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui dampak atau efek krisis terhadap daya beli mahasiswa

2. Mengetahui berapa biaya rata-rata yang dikeluarkan mahasiswa

3. Mengetahui apakah terjadi perubahan dalam pola pengeluaran mahasiswa

I.5. Manfaat Penelitian

1. Bagi penulis, menambah wawasan dan pengetahuan tentang pengaruh dari krisis terhadap mahasiswa.

2. Bagi mahasiswa lain, dapat menjadi bahan referensi saat ingin melakukan penelitian.

I.6. Metodologi Metodologi Penelitian

I.6.1. Objek Penelitian

Objek penelitian penulisan ini adalah Mahasiswa Universitas Gunadarma PTA 2008/2009 kelas 3EA01.

I.6.2. Data / Variabel

Penelitian menggunakan kuesioner dengan mengambil sampel sebanyak 16 responden.

I.6.3. Metode pengumpulan data / Variabel

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah dengan menggunakan dua cara yaitu;

a. Riset Lapangan

Menggunakan metode langsung yaitu dengan cara pengumpulan data kualitatif dengan membagi kuesioner.

b. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan dilakukan untuk mencari landasan teori yang berhubungan dengan topik ini. Metode ini dilakukan dengan cara mempelajari buku-buku literature yang berhubungan dengan topik tulisan ini.

Matthew's Blogs

Alamat Sumber : http://neila.staff.ugm.ac.id/wordpress/wp content/uploads/2008/02/empatijurnal1.pdf

Analisis Jurnal :

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah empati menjadi salah satu determinan dalam kebiasaan merokok.

Variabel dari penelitian ini adalah perilaku merokok ditempat umum (variabel dependen) dan empati (variabel bebas). Subjek dari penelitian ini adalah 150 orang remaja usia 15-22 tahun yang merupakan perokok aktif. Teknik yang digunakan adalah nonrandom sampling yaitu dengan teknik incidental sampling. Alat penelitian dengan skala perilaku merokok tersusun atas 80 item degan 41 item pernyatan yang bersifat favorable dan 39 item yang bersifat unfavorable. Sedangkan alat penelitian dengan skala empati berbentuk angket tertutup yang terdiri dari 30 item favorable dan 40 item unfavorable.

Hasil penelitian ini menunjukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara empati dengan perilaku merokok di tempat umum. Hal ini terlihat dari nilai korelasi r = -0,207 (p<0.05).>

Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi empati maka perilaku merokok di tempat umum semakin berkurang sebaliknya, semakin rendah empati maka perilaku merokok di tempat umum semakin meningkat.

Nama Pengarang : Ari Tris Ochtia Sari, Neila Ramdhani dan Mira Eliza

Tahun : 2008

Matthew's Blogs

Alamat Sumber : http://puspasca.ugm.ac.id/files/(2893-H-2004).pdf

Analisis Jurnal :

Tujuan dari penelitin ini adalah untuk mengetahui hubungan persepsi dan sikap remaja tentang merokok dengan perilaku merokok pada remaja.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Lokasi penelitian di Kota Masohi Maluku Tengah. Subjek penelitian adalah remaja di SMU dan SMK. Sampel penelitian berjumlah 103 responden. Analisis yang digunakan adalah univariat, bivariat dan multivariat. Uji statistik yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas, variabel pengganggu dan variabel terikat dengan

perhitungan chi square dengan regresi logistik. Derajat kemaknaan adalah 95% dengan p<0,05.

Hasil yang didapat adalah terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap merokok dengan perilaku merokok remaja p= 0,00 hal ini menunjukkan bahwa sikap remaja terhadap merokok merupakan prediktor dominan terjadinya perilaku merokok remaja di Kota Masohi Kabupaten Maluku Tengah. Variabel persepsi, kebiasaan merokok keluarga dan bentuk keluarga tidak terdapat hubungan bermakna (masing masing p=0,48; 0,65; 0,16) hal ini berarti variabel persepsi, kebiasaan merokok keluarga dan bentuk keluarga bukan prediktor perilaku merokok remaja di Kota Masohi.

Kesimpulannya adalah sikap terhadap merokok merupakan prediktor yang dominan terhadap perilaku merokok remaja menyusul variabel persepsi sedangkan variabel kebiasaan merokok keluarga dan bentuk keluarga bukan merupakan prediktor untuk perilaku merokok remaja.

Nama Pengarang : Lisbeth Pattinasarany

Tahun : 2004

Topik : Perilaku Merokok